Tokoh Masyarakat Aceh Singkil Kritik PT Socfindo: “Mereka Kaya dari Tanah Kami, Tapi Kami Tetap Miskin”

SUBULUSSALAM

- Redaksi

Sabtu, 27 September 2025 - 03:06 WIB

50158 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Singkil — Suara kritis masyarakat terhadap keberadaan perusahaan besar kembali menggema dari wilayah Aceh Singkil. Kali ini, sorotan tajam tertuju kepada PT Socfindo, perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah lama beroperasi di daerah tersebut. Dalam beberapa pekan terakhir, masyarakat dari berbagai elemen—mulai tokoh adat, pemuda, hingga mahasiswa—melancarkan kritik keras terhadap perusahaan yang dinilai lebih banyak mengambil daripada memberi.

Salah satu tokoh masyarakat Aceh Singkil, Jalaluddin, menyampaikan komentarnya secara lantang dalam wawancara dengan media pada Jumat (26/9/2025). Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap PT Socfindo yang dinilai tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat meskipun telah menikmati hasil bumi Aceh Singkil selama puluhan tahun.

“Mereka datang dengan bendera investasi, tapi yang terjadi hanyalah eksploitasi. Mereka kaya dari tanah kami, tapi kami tetap miskin. Kami hanya penonton di atas tanah sendiri,” kata Jalaluddin dengan nada geram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia juga menyoroti janji-janji perusahaan yang tidak ditepati, khususnya dalam ranah tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR (Corporate Social Responsibility). Menurutnya, janji pembangunan infrastruktur dasar hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat hanya berakhir di atas kertas. Berbagai fasilitas umum masih dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan, sementara akses masyarakat terhadap pendidikan dan pekerjaan di perkebunan masih sangat terbatas.

“Setiap tahun kita dengar soal CSR. Tapi kenyataannya? Sekolah rusak tetap rusak, jalan desa penuh lubang, pemuda tak diberi kesempatan kerja. CSR mereka seperti hantu—sering disebut, tapi tidak pernah terlihat,” ujarnya.

Kritik terhadap PT Socfindo semakin menguat ketika perusahaan mendadak menyalurkan bantuan sosial dalam bentuk sembako dan kebutuhan pokok pasca-unjuk rasa warga yang menuntut keadilan. Jalaluddin menganggap itu bukan bentuk kepedulian, melainkan respons reaktif terhadap tekanan publik dan media.

“Begitu didemo, langsung mereka sibuk bagi-bagi bantuan. Ini bukan kepedulian tulus, ini akrobat politik. Kalau mereka benar-benar peduli, tak perlu rakyat marah dulu,” tandasnya.

Selain soal kesejahteraan, Jalaluddin juga menyinggung dampak buruk lingkungan akibat aktivitas perusahaan. Ia menyebut kerusakan ekosistem sungai, pembukaan lahan skala besar, serta konflik agraria yang tak kunjung selesai sebagai bukti lemahnya pengawasan serta buruknya komunikasi antara perusahaan dan masyarakat.

“Kami orang kampung hidup dari sungai dan hutan. Tapi sekarang sungai keruh, hutan habis. Mereka hanya tahu menanam sawit, tapi tak pernah menanam hubungan baik,” ucapnya.

Jalaluddin menilai persoalan ini tak bisa dibiarkan terus berlarut. Ia mendesak pemerintah daerah, DPRK Aceh Singkil, bahkan kementerian terkait untuk segera turun tangan. Ia menyerukan dilakukannya audit independen terhadap seluruh kegiatan perusahaan serta membuka ruang mediasi terbuka yang melibatkan masyarakat secara langsung.

“Kalau pemerintah terus diam, ini bukan cuma soal perusahaan lagi, tapi soal pengkhianatan terhadap rakyat. Jangan biarkan daerah ini hanya jadi ladang sawit, tapi tak ada sawit untuk rakyatnya,” ujarnya menutup.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Socfindo belum memberikan pernyataan resmi. Namun desakan masyarakat yang kian menggema menjadi pertanda bahwa harapan pada perubahan nyata belum surut. Warga menunggu bukti, bukan sekadar janji. (Padank)

Berita Terkait

Penerbangan Singkil–Medan Resmi Dibuka, Kadishub Aceh Singkil Ajak Warga Manfaatkan Jalur Udara
Tuntutan Jaksa Ditunda, Kuasa Hukum Desak Pembebasan Yakarim Munir
Kuasa Hukum Berintegritas: Zahrul, S.H. Bongkar Kejanggalan Kasus Yakarim Munir Lembong
13 Pasangan Calon Pengantin Ikuti Bimbingan Perkawinan di KUA Kluet Utara
PT Nafasindo Gelar Rapat Tertutup Bahas Kompensasi Limbah, DPD LSM Gakorpan Desak Aparat Hukum Bertindak
Forum Umat Islam Minta Pemkab Aceh Singkil Taat Qanun dalam Penjaringan Imum Mukim
Saksi Mangkir, Sidang Yakarim Munir di PN Aceh Singkil Kembali Tertunda
Pesakitan di Tengah Sengketa Perdata: Keadilan Diuji di Pengadilan Negeri Aceh Singkil

Berita Terkait

Senin, 16 Maret 2026 - 23:37 WIB

Dialog Santai dan Silaturahmi Warnai Buka Puasa Bersama Polres Gayo Lues dengan Insan Pers

Kamis, 12 Maret 2026 - 23:31 WIB

Polres Gayo Lues, Brimob dan Purnawirawan Polri Gelar Buka Puasa Bersama, Perkuat Silaturahmi di Bulan Ramadan

Kamis, 12 Maret 2026 - 22:48 WIB

Kapolres dan Bupati Gayo Lues Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Seulawah 2026

Sabtu, 24 Januari 2026 - 22:23 WIB

AKBP Hyrowo Wujudkan Sinergi Polri dan Masyarakat Bangun Infrastruktur Pascabencana di Putri Betung

Sabtu, 13 Desember 2025 - 21:43 WIB

Peduli Korban Banjir, Polres Gayo Lues Hadirkan Bantuan Sembako dan WiFi Starlink Gratis di Desa Remukut

Senin, 1 Desember 2025 - 16:14 WIB

Polres Gayo Lues Sediakan WiFi Untuk Masyarakat Yang Ingin Menghubungi Keluarga di Luar Gayo Lues

Senin, 1 Desember 2025 - 15:52 WIB

Polres Gayo Lues Evakuasi Warga Desa Palok Terdampak Banjir Bandang

Senin, 1 Desember 2025 - 15:22 WIB

Terendam Banjir, Polres Gayo Lues Bersama TNI, BPBD dan Stakeholder Terkait Lakukan Koordinasi

Berita Terbaru