Aceh Singkil – Penetapan Yakarim sebagai tersangka memicu gelombang kemarahan rakyat. Dukungan demi dukungan terus mengalir dari berbagai lapisan masyarakat. Bagi rakyat Aceh Singkil, ini bukan sekadar kasus hukum, melainkan bukti telanjang bahwa hukum telah dijadikan alat untuk membungkam suara pejuang rakyat kecil.
Masyarakat menilai Yakarim hanyalah korban kriminalisasi. Sosok yang berani melawan penindasan dan membela hak-hak rakyat miskin kini dijadikan tumbal hukum. Ironisnya, perusahaan besar yang diduga merampas tanah rakyat justru dibiarkan bebas tanpa tersentuh hukum.
“Ini bukan keadilan, ini penindasan! Hukum di Aceh Singkil jelas tajam ke bawah, tumpul ke atas. Kalau ada yang harus dipenjara, itu para perampas tanah, bukan Yakarim yang berjuang untuk rakyat!” tegas seorang tokoh masyarakat dengan suara penuh amarah.
Seorang petani miskin pun meluapkan kekecewaannya kami sudah lama hidup susah. Tanah kami dirampas, suara kami dibungkam. Yakarim satu-satunya yang berani bicara untuk kami. Kalau dia dikriminalisasi, itu sama saja menghukum seluruh rakyat kecil
Seorang ibu rumah tangga ikut menambahkan kami tidak punya kekuasaan, tidak punya uang. Hanya orang seperti Pak Yakarim yang peduli pada kami. Kalau dia dipenjara, siapa lagi yang akan membela rakyat kecil?”
Seorang nelayan tua bahkan menggenggam tangannya erat lalu berteriak Kalau hukum tidak bisa melindungi rakyat, maka rakyat akan melindungi pejuangnya dengan cara sendiri. Jangan pernah anggap kami diam
Gelombang dukungan ini membuktikan satu hal: Yakarim bukan sendirian. Setiap doa, setiap langkah, dan setiap teriakan rakyat Aceh Singkil kini berpihak kepadanya. Penetapan tersangka terhadap Yakarim justru semakin memperlihatkan wajah asli hukum negeri ini—hukum yang bisa diperdagangkan, hukum yang tunduk pada penguasa, hukum yang membungkam kebenaran.
Aceh Singkil kini diselimuti duka. Duka itu lahir bukan karena kehilangan nyawa, tetapi karena melihat sosok pembela rakyat, Yakarim Munir, harus menanggung beban yang tidak semestinya. Nama Yakarim sudah lama dikenal sebagai tokoh berani, tulus, dan konsisten membela kepentingan rakyat.
Hampir setiap hari, rumahnya tidak pernah sepi. Rakyat dari berbagai penjuru datang untuk mencari keadilan, meminta bantuan hukum, atau sekadar menitipkan harapan. Bagi mereka yang terampas haknya, Yakarim adalah perisai; bagi yang terzalimi, ia adalah cahaya. Tak heran ketika kini ia ditimpa cobaan, luka itu ikut dirasakan rakyat banyak.
Namun sejarah telah membuktikan: cahaya kebenaran tidak pernah bisa dipadamkan. Tekanan, intimidasi, bahkan kriminalisasi, justru menegaskan bahwa perjuangan Yakarim berada di jalur yang benar. Semakin keras upaya untuk membungkam, semakin jelas bahwa suara rakyat terlalu lantang untuk ditenggelamkan.
Aceh Singkil hari ini berduka, tapi juga bangga. Duka karena melihat pejuang rakyat diperlakukan tidak adil, namun bangga karena memiliki putra terbaik seperti Yakarim Munir—yang tetap teguh dan ikhlas di jalan perjuangan.
Rakyat menegaskan, mereka tidak akan tinggal diam. Kriminalisasi terhadap Yakarim adalah penghinaan terhadap rakyat Aceh Singkil itu sendiri.
“Kalau hukum terus dipermainkan seperti ini, rakyat akan turun dan bicara dengan caranya sendiri,” begitu suara keras yang kini menggema di bumi Aceh Singkil.
Semoga keteguhan dan ketulusan perjuangan Yakarim tetap menjadi cahaya abadi, serta setiap langkahnya selalu dalam lindungan Allah SWT. Redaksi,



























