Aceh Singkil | Realitas Ketika hukum yang seharusnya menjadi pelindung rakyat justru berubah menjadi alat kekuasaan untuk membungkam suara kebenaran, di situlah ironi perlawanan rakyat Aceh Singkil menemukan sosoknya: Yakarim Munir.
Hari ini nama Yakarim Munir bukan sekadar pribadi, tetapi telah menjelma sebagai simbol perlawanan kaum beak, simbol jeritan rakyat kecil yang ditindas, simbol rakyat Aceh Singkil yang tanah ulayatnya dirampas atas nama investasi.
Investasi atau Kolonialisme Gaya Baru?
Sejatinya, kehadiran investor adalah untuk menghadirkan kemakmuran, membuka peluang ekonomi, serta menghormati adat dan kearifan lokal. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Investor datang bukan membawa harapan, melainkan mengulang wajah kelam VOC datang dengan senyum, tetapi menancapkan kuku penjajahan.
Hak ulayat adat dipijak, tanah pusaka diwariskan nenek moyang dirampas, dan kini suara rakyat yang berani menentang dipasung dengan kriminalisasi.Inilah wajah kolonialisme modern, dengan topeng “pembangunan” tetapi ruhnya perampasan.
Yakarim Munir: Dari Opini Jadi Kriminalisasi Yakarim Munir bukan seorang penguasa, bukan pula pemodal besar. Ia hanyalah seorang rakyat biasa yang memilih berdiri di tengah jeritan rakyatnya. Dengan opini dan parodinya, ia menguliti wajah kezaliman. Dengan keberaniannya, ia menantang kepalsuan sistem yang tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Kini keberanian itu dibayar mahal.Ia bukan duduk sebagai terdakwa karena bersalah, melainkan karena berani kami tahu abang Yakarim tidak salah. Dia hanya menyuarakan isi hati kami yang tak pernah didengar. Kalau dia dipenjara, berarti kami semua ikut dipenjara,” ujar Muksin (46), seorang petani dari Gunung Meriah, dengan mata berkaca-kaca.
Sidang Perdana: Ajang Perlawanan Rakyat
Pengadilan Aceh Singkil akan menjadi saksi.Sidang perdana Yakarim Munir bukan hanya perkara individu, tetapi perkara marwah rakyat Aceh Singkil. Seruan menggema: hadirkan massa, ramaikan sidang, tunjukkan kekuatan rakyat yang selama ini dianggap lemah.
“Kami nelayan kecil, hidup hanya dari laut. Tapi laut pun bukan lagi milik kami. Investor masuk seenaknya, adat tak dipandang. Sekarang pejuang kami dikriminalisasi. Kami tak rela. Besok kami datang ramai-ramai ke sidang!” tegas Abu Laot, seorang nelayan Ujung Sialit.
DIA KAUM BEAKMU. DIA PEJUANGMU.
Kalimat itu kini menjadi sumpah rakyat.
Suara Tokoh Adat: Jangan Biarkan Hegemoni Menguasai Tokoh-tokoh adat pun angkat bicara. Mereka melihat kriminalisasi terhadap Yakarim Munir bukan semata persoalan hukum, melainkan bentuk perampasan martabat masyarakat adat.
“Hukum itu harusnya jadi pelindung rakyat. Tapi hari ini hukum dipakai untuk menekan rakyat. Apa artinya keadilan kalau tanah adat dirampas dan suara yang menentang dibungkam?” kata Tgk. Abdul Halim salah seorang pemangku adat Aceh Singkil.
Hentikan Ego, Satukan Perlawanan Perjuangan ini bukan soal suka atau tidak suka. Bukan soal ego kelompok, apalagi kepentingan sesaat.Ini soal marwah putra-putri Aceh Singkil yang tertindas.
“Kami masyarakat bawah tidak peduli siapa partai, siapa kelompok, siapa kubu. Yang kami tahu, Yakarim Munir ada di pihak kami. Kalau dia dizalimi, berarti rakyat yang dizalimi. Itu harga diri kami!” ungkap Rosmiati (38), seorang ibu rumah tangga dari Simpang Kanan.
Save Yakarim Munir: Suara Rakyat Tak Bisa Dibungkam Hari ini, rakyat Aceh Singkil hanya punya satu tuntutan hentikan kriminalisasi terhadap Yakarim Munir.
Suka atau tidak suka, ia adalah bagian dari kita. Ia hadir di tengah jeritan rakyat yang tanah pusakanya dicabik. Ia berdiri melawan hegemoni pengembang yang mengkhianati kearifan lokal.
Dan pesan rakyat Aceh Singkil jelas Hentikan kolonialisme gaya baru berkedok investasi.Rakyat tidak akan tinggal diam ketika pejuangnya ditindas.Yakarim Munir bukan sendirian, ada rakyat Aceh Singkil di belakangnya.
Sejarah akan mencatat: siapa yang berdiri bersama rakyat, dan siapa yang bersembunyi di balik kekuasaan.
[Red, team AlamGaib ]



























