Lhokseumawe – Kiprah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh kian menunjukkan peran strategis tidak hanya dalam memberdayakan petani, tetapi juga dalam mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan hijau yang berkelanjutan. Terbaru, Apkasindo tampil sebagai jembatan penting antara dunia akademik, industri, dan masyarakat tani melalui keikutsertaannya dalam Seminar Nasional ke-IX Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang akan digelar di Politeknik Negeri Lhokseumawe, 23 Oktober 2025.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Apkasindo, Dr. Gulat Medali Emas Manurung, dijadwalkan hadir sebagai narasumber utama dalam seminar yang mengusung tema “Penguatan Sinergi Akademisi, Industri dan Pemerintah dalam Membangun Kampus Hijau dan Cerdas Menuju Pencapaian SDGs.” Forum ini menjadi ruang kolaboratif bagi kalangan perguruan tinggi untuk berdialog langsung dengan pelaku industri perkebunan nasional, khususnya sawit, dalam rangka mendorong ekonomi hijau dan keberlanjutan pendidikan tinggi.
Kehadiran Apkasindo dalam forum akademik ini dinilai mencerminkan transformasi wajah organisasi, dari sekadar wadah perjuangan petani menjadi motor perubahan sosial dan pendidikan. Termasuk di dalamnya upaya untuk mengisi ruang-ruang strategis regenerasi pemimpin muda Aceh melalui pendekatan pertanian, inovasi teknologi, dan penguatan nilai-nilai keberlanjutan.
Ketua Apkasindo Aceh, Ir. Netap Ginting, menyambut baik kesempatan tersebut sebagai bagian penting dari misi jangka panjang organisasi.
“Melalui interaksi antara mahasiswa, akademisi, dan pelaku industri sawit, kita menyiapkan generasi yang paham teknologi, berjiwa agribisnis, dan berkarakter hijau. Sawit bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga jembatan pendidikan dan masa depan Aceh,” ujar Netap Ginting.
Apkasindo Aceh sendiri dalam beberapa tahun terakhir aktif menginisiasi program-program literasi sawit untuk kalangan mahasiswa, pelatihan di lapangan bagi petani muda, serta turut mendorong kolaborasi riset bersama perguruan tinggi. Keterlibatan organisasi ini dalam seminar nasional di Lhokseumawe sekaligus menjadi penguatan peran Apkasindo dalam mendukung agenda pembangunan hijau, sebagaimana tercantum dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Langkah sinergi dengan kampus juga mencerminkan semangat Apkasindo dalam mengedepankan model pertanian modern dan terintegrasi antardisiplin — dari aspek teknik budidaya, pengelolaan lingkungan, ekonomi, digitalisasi pertanian, hingga keberpihakan pada kebijakan publik yang berpihak kepada petani.
Dengan pendekatan ini, Apkasindo Aceh dipandang tidak lagi semata sebagai wadah organisasi profesi petani, melainkan sebagai agen transformasi — membentuk generasi intelektual yang berpijak ke bumi sawit dan siap berkompetisi di ruang nasional maupun global.
“Kami ingin menunjukkan bahwa dari kebun sawit, kita tidak hanya melahirkan produksi minyak, tetapi juga mencetak pemimpin-pemimpin muda Aceh yang cerdas, bertanggung jawab, dan berwawasan hijau,” ujar Netap Ginting menutup pernyataannya.
Melalui langkah-langkah progresif seperti ini, Apkasindo Aceh terus menegaskan perannya sebagai kekuatan kolektif yang mendorong Aceh bergerak ke depan — dengan sawit sebagai fondasi ekonomi rakyat dan wahana pembentuk masa depan generasi penerus daerah.
Antoni Tinendung



























