Subulussalam — Jelang peringatan Hari Pelleng Nasional pada 10 Oktober 2025, semangat untuk merayakan warisan kuliner masyarakat adat Pakpak kembali menggema, tak hanya di kampung-kampung asalnya, tetapi juga di sudut-sudut kafe yang menyatu dengan denyut kehidupan modern.
Suasana itulah yang terlihat di dataran tinggi Jontor, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Di Kafe Kayu Kapur Kedabuhen milik Rahman Manik, aroma khas Pelleng mulai mempererat persinggahan dan percakapan antarwarga. Tak terkecuali bagi seorang remaja asal Perancis yang secara kebetulan mampir dan menikmati sepiring Pelleng dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
“Mulai 11 sampai 13 Oktober, semua menu Pelleng kami diskon 20 persen. Ini bentuk kecil dari semangat Hari Pelleng Nasional, mengingatkan kita pada akar yang dalam dan rasa yang menyatukan,” kata Rahman, pengusaha kuliner muda yang menjadikan kafenya sebagai ruang perjumpaan antara lidah modern dan kekuatan tradisi.
Pelleng bukan semata nasi pedas berbumbu, melainkan hidangan penuh narasi—tentang kekuatan, kesehatan, dan keberanian. Sebagai representasi budaya kuliner Pakpak, Pelleng menyatukan cita rasa lada hitam, asam cikala, jahe, kunyit, serai, dan bawang yang disajikan dengan ayam kampung, menjadikannya sebagai makanan sekaligus medium kesehatan alami.
Khasiatnya kini menarik perhatian bukan hanya dari penikmat kuliner, melainkan juga dari kalangan pemerhati kesehatan. Lada hitam dan jahe dipercaya membantu metabolisme dan meredakan lambung. Kunyit dan asam cikala, rempah-resapan masa lalu, disebut memiliki khasiat antiinflamasi dan pelindung hati.
“Beberapa pengunjung rutin makan Pelleng untuk menjaga stamina. Banyak dari mereka bilang badan terasa hangat, pencernaan lancar, rasanya seperti terapi alami,” ujar Rahman sambil meracik bumbu di dapurnya yang terbuka.
Pada akar sejarahnya, Pelleng memiliki nilai simbolik yang kuat. Bagi masyarakat Pakpak, ia adalah makanan adat penguat semangat — disuguhkan sebelum tokoh adat berangkat berperang atau menghadiri hajatan besar. Konon, pedasnya menjadi pancaran keberanian dan kebersamaan. Dalam konteks masa kini, filosofi itu tetap hidup, melandasi peringatan Hari Pelleng Nasional yang diperingati serentak dari Pakpak Bharat, Sidikalang, Humbang, Aceh Singkil, hingga Subulussalam.
Pelleng pernah berjaya di panggung nasional. Ia dianugerahi Juara Festival Kuliner Nusantara di Jakarta tahun lalu. Juri menyebutnya sebagai salah satu hidangan paling “berkarakter” dalam ajang tersebut — bukan hanya karena rasanya, tetapi karena jejak budaya yang menyertainya.
Bagi pemerintah daerah dan komunitas budaya, Pelleng bukan hanya warisan, tetapi juga bagian dari masa depan. Di berbagai daerah, event seperti Festival Pelleng Nusantara dipersiapkan dengan semangat kolaboratif: lomba memasak, seminar, tur rempah, hingga promosi wisata kampung adat.
Pelleng kini bertransformasi — dari hidangan upacara menjadi ikon pariwisata yang membangun narasi kebhinekaan di atas meja makan. Di tangan generasi muda seperti Rahman, ia tampil bukan hanya sebagai resep, melainkan filosofi yang hidup dan bergerak.
“Pelleng adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan,” ujar Dr. Berta Manalu, pemerhati budaya kuliner. “Ia bukan sekadar menyatukan rasa, tapi juga identitas. Bagi masyarakat adat, Pelleng adalah pengingat bahwa kita punya nama, punya akar, dan punya warisan untuk dikenalkan ke dunia.”
Kisah Pelleng menunjukkan bahwa warisan lokal bisa menjadi simbol nasional. Sejajar dengan rendang Minangkabau atau naniura Batak Toba, Pelleng adalah perayaan keanekaragaman lewat rasa. Ia mendidik, menyembuhkan, dan menyatukan.
Di senja dataran Jontor yang semakin berwarna, Kafe Kayu Kapur mulai ramai. Pelleng disajikan hangat, bukan hanya untuk mengisi perut, tapi untuk mengikat kembali sesuatu yang lebih dalam: akar identitas yang bisa menyatu dalam sejumput bubuk lada dan seiris jahe.
Karena di negeri yang kaya rasa ini, masa depan bisa dibangun dari dapur — dimulai dari sepiring nasi panas yang disebut Pelleng.
Antoni Tinendung



























